WANITA SEKUAT BAJA
Kulihat engkau termenung di suatu senja
Teringat akan keluargamu nun jauh di sana
Rasa rindu tak terbendung ingin jumpa dengan mereka
Dua gadis yang manis dan seorang suami yang pengertian
Di sini, di kota ini kau bertempat tinggal
Jauhnya jarak selalu membuatmu
ingin dekat dengan orang-orang yang tercinta
Di pundakmu tersampir beban yang berat
Ratusan pasang mata menggantungkan hidupnya padamu
Kau tak mau tinggalkan mereka
Meskipun itu berat untukmu
Untuk wanita sekuat baja
Kubermohon pada Mu ya Robbi
Berikanlah dia kekuatan menjalani hari-harinya
Di antara kesunyian hidupnya
Agar selalu Kau karuniai kesehatan dan kebahagiaan
Demi kami di sini yang selalu menantikan kehadirannya.
7 Januari 2010
(Tuk dr. Ning yang selalu mengabdikan hidupnya bagi RSI Fatimah)
KEPINGAN HATIKU
Hatiku hancur berkeping-keping
Bagaikan habis terkena badai hari itu
Kulihat engkau bersama orang lain yang kau cintai
Selain diriku
Kepingan hatiku
Dapatkah kau bercerita
Hancurnya perasaan yang ada dalam hatiku ?
Melihatnya bersama orang yang dicintainya
Berdua menjalin mahligai penikahan di depan mataku ?
Hari ini kau akan jadi milik orang lain
Tak kuasa aku melawan takdir
Apa daya manusia hanyalah menjalani
apa yang sudah menjadi ketentuan Nya
Namun ku kan berusaha tegar
Dan tabah menjalani semua ini
Karena ku yakin
Di balik ini semua tersimpan hikmah
Terbaik bagiku dan baginya
(Tuk Mbak Dwi di acara Pernikahan Mas Arief 12 Desember 2009 jam 12.00)
DEWI FORTUNA
Sorot matamu memancarkan keletihan
Bertahun-tahun kau hidup dalam ketidakpastian di hidupmu
Entah apa yang kau tunggu, aku tak mengerti
Yang aku tahu, kau dambakan masa depan yang cerah
Yang kan membawa kebahagiaan di hidupmu dan hari depanmu
Namun hingga kini Tuhan belum berkenan merubah itu semua
Dewi Fortuna
Teruslah berharap, teruslah berdoa
Ku yakin suatu saat Tuhan kan merubah hidupmu
Lewat doa-doamu, lewat usaha kerasmu
Yakinlah Tuhan tidak tidur
Kan dikabulkanNya apa yang menjadi permohonan ummatNya
Selama kau terus berusaha dan berdoa
Perum Sutri, 7 Januari 2010
(Tuk Mbak Dewi yang selalu menginginkan perubahan dalam hidupnya)
PAK SLAMET
Wajahmu selalu tersenyum
Walaupun derita hidup yang kau alami begitu berat
Hitam kulitmu menunjukkan
Betapa kau bekerja keras menyongsong kehidupan
Kekar ototmu menggambarkan
Berapa jauh jarak yang kau tempuh setiap hari
tuk menghidupi anak dan istri
Kesederhanaan yang kau tunjukkan
Memberikanku pemahaman tentang arti kehidupan
Pak Slamet
Aku hanya bisa bermohon pada Yang Kuasa
Semoga kau selalu diberi kekuatan
Agar dapat selalu mensyukuri kehidupan
Semoga kau selalu diberikan rezeki yang barokah
Agar keluargamu selalu hidup dalam keberkahan
Selasa,5 Januari 2010
(Sambil berteduh menunggu hujan reda di dekat BRI Banyuwangi)
Sabtu, 09 Januari 2010
Minggu, 27 Desember 2009
MATAHARIKU
Bening matamu, mengingatkanku pada gemericik air di sungai nan jernih
Di kaki gunung nan jauh
Ada sebuah mata air yang begitu jernih
Airnya mengalir perlahan……
Tiada riak ataupun gelombang
Mengalir begitu tenang….
Terasa damai dalam jiwa ini
Dua lesung pipitmu mengingatkanku pada senyuman mentari pagi
Hangatnya sinar mentari di pagi hari membangunkanku dari tidur malamku
Embun pagi menetes dari ujung – ujung dahan
Segarnya hari membuatku terjaga dari tidurku yang lelap
Matahariku
Kudambakan sinarmu yang hangat setiap pagi
Tanpamu aku tak kan mampu lalui hariku
Di dalam dinginnya pagi yang membekukan ragaku
Matahariku
Sinarmu yang hangat memberiku harapan
Bersamamu kusongsong hari yang indah
Jangan tinggalkan aku
dalam bekunya hari yang dingin dan suram….
Kudambakan selalu sinarmu setiap hari
Agar kudapatkan
Secercah harapan menyongsong datangnya hari
For My Son : Muhammad Faishal yang selalu memberi semangat dalam tiap hariku
Di kaki gunung nan jauh
Ada sebuah mata air yang begitu jernih
Airnya mengalir perlahan……
Tiada riak ataupun gelombang
Mengalir begitu tenang….
Terasa damai dalam jiwa ini
Dua lesung pipitmu mengingatkanku pada senyuman mentari pagi
Hangatnya sinar mentari di pagi hari membangunkanku dari tidur malamku
Embun pagi menetes dari ujung – ujung dahan
Segarnya hari membuatku terjaga dari tidurku yang lelap
Matahariku
Kudambakan sinarmu yang hangat setiap pagi
Tanpamu aku tak kan mampu lalui hariku
Di dalam dinginnya pagi yang membekukan ragaku
Matahariku
Sinarmu yang hangat memberiku harapan
Bersamamu kusongsong hari yang indah
Jangan tinggalkan aku
dalam bekunya hari yang dingin dan suram….
Kudambakan selalu sinarmu setiap hari
Agar kudapatkan
Secercah harapan menyongsong datangnya hari
For My Son : Muhammad Faishal yang selalu memberi semangat dalam tiap hariku
Selasa, 18 Agustus 2009
GARAM DAN TELAGA
Dahulu kala, hiduplah seorang tua yang bijaksana. Tidak ada yang tahu nama yang sebenarnya. Semua memanggilnya dengan Pak Tua Bijak. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda menemui Pak Tua Bijak. Pemuda itu kemudian menceritakan semua masalahnya. Pak Tua Bijak mendengar semua keluhan pemuda itu.
Setelah pemuda itu selesai mencurahkan isi hatinya, Pak Tua Bijak mengambil segenggam garam. Di depan si pemuda, Pak Tua menuang garam itu ke dalam segelas air. Setelah diaduk, ia memberikan gelas air itu kepada si pemuda. “Coba diminum! Dan bagaimana rasanya ?” kata Pak Tua. “Asin, asin sekali!” kata si pemuda setelah meminum air bercampur garam itu.
Pak Tua Bijak tersenyum sedikit. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi sebuah telaga yang jernih. Pak Tua Bijak mengambil segenggam garam dan menaburkannya ke dalam air telaga. Dengan sepotong kayu dia mengaduk-aduk air telaga. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah! Katanya. Saat pemuda itu selesai meminum air telaga, Pak Tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya ?” “Segar, “ sahut pemuda itu. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air telaga ini ?” tanya Pak Tua Bijak lagi. ”Tidak!” jawab pemuda itu. Pak Tua lalu mengajak pemuda itu duduk berhadapan di tepi telaga itu.
“Anak muda,” kata Pak Tua Bjak memulai percakapan mereka. “Pahitnya kehidupan ini sama seperti segenggam garam tadi. Kepahitan yang kita rasakan itu sangat bergantung pada wadah untuk menampungnya. Jika kita menampungnya dengan gelas, kepahitan itu akan terasa sangat pahit. Sebaliknya jika kita menampungnya dengan telaga, kepahitan itu tidak akan terasa.” Pak Tua melanjutkan katanya-katanya, “Wadah untuk menampung kepahitan kehidupan ini adalah hati kita. Karena itu, saat kamu menghadapi kegagalan dalam hidup, luaskanlah hatimu untuk menampung semua kegagalan itu.”
Setelah mendengar nasihat Pak Tua, pemuda itu pun pulang dengan lega. Pak Tua menyimpan segenggam garam lagi untuk orang lain yang akan datang membawa keresahannya.
(Sumber : Majalah Bobo, Thn XXXVI, 14 Agustus 2008, halaman 2)
Setelah pemuda itu selesai mencurahkan isi hatinya, Pak Tua Bijak mengambil segenggam garam. Di depan si pemuda, Pak Tua menuang garam itu ke dalam segelas air. Setelah diaduk, ia memberikan gelas air itu kepada si pemuda. “Coba diminum! Dan bagaimana rasanya ?” kata Pak Tua. “Asin, asin sekali!” kata si pemuda setelah meminum air bercampur garam itu.
Pak Tua Bijak tersenyum sedikit. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi sebuah telaga yang jernih. Pak Tua Bijak mengambil segenggam garam dan menaburkannya ke dalam air telaga. Dengan sepotong kayu dia mengaduk-aduk air telaga. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah! Katanya. Saat pemuda itu selesai meminum air telaga, Pak Tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya ?” “Segar, “ sahut pemuda itu. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air telaga ini ?” tanya Pak Tua Bijak lagi. ”Tidak!” jawab pemuda itu. Pak Tua lalu mengajak pemuda itu duduk berhadapan di tepi telaga itu.
“Anak muda,” kata Pak Tua Bjak memulai percakapan mereka. “Pahitnya kehidupan ini sama seperti segenggam garam tadi. Kepahitan yang kita rasakan itu sangat bergantung pada wadah untuk menampungnya. Jika kita menampungnya dengan gelas, kepahitan itu akan terasa sangat pahit. Sebaliknya jika kita menampungnya dengan telaga, kepahitan itu tidak akan terasa.” Pak Tua melanjutkan katanya-katanya, “Wadah untuk menampung kepahitan kehidupan ini adalah hati kita. Karena itu, saat kamu menghadapi kegagalan dalam hidup, luaskanlah hatimu untuk menampung semua kegagalan itu.”
Setelah mendengar nasihat Pak Tua, pemuda itu pun pulang dengan lega. Pak Tua menyimpan segenggam garam lagi untuk orang lain yang akan datang membawa keresahannya.
(Sumber : Majalah Bobo, Thn XXXVI, 14 Agustus 2008, halaman 2)
Jumat, 14 Agustus 2009
Lyric lagu yang memberi motivasi
You Raise Me up (Josh Groban)
When i am down and all my souls surround me,
and troubles come and my heart burden me,
and i am still am waiting here in the silence,
until you come and sit awhile with me
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
(Instrumental Music)
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
(music dies then)
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
you raise me up to more than i can be
==================================================
Jangan Menyerah (D'Masiv)
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi
kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi
reff1:
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi
repeat reff1
reff2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa
Sumber : http://www.stafaband.info/lirik
When i am down and all my souls surround me,
and troubles come and my heart burden me,
and i am still am waiting here in the silence,
until you come and sit awhile with me
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
(Instrumental Music)
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
(music dies then)
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
you raise me up so i can stand on mountains,
you raise me up to walk on stormy seas,
i am strong when i am on your shoulders,
you raise me up to more than i can be
you raise me up to more than i can be
==================================================
Jangan Menyerah (D'Masiv)
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi
kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi
reff1:
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi
repeat reff1
reff2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa
Sumber : http://www.stafaband.info/lirik
Kamis, 18 Juni 2009
KECAKAPAN ADALAH HASIL DARI PRAKTIK
Latihan menghasilkan kecakapan. Apapun jika dilakukan terus-menerus akan menjadi suatu keahlian.
Alkisah ada seorang panglima yang sangat ahli memanah. Suatu hari ia menunjukkan keahliannya di depan rakyat dengan memanah sasaran-sasaran yang telah disiapkan. Ia berhasil memanah semuanya, tidak ada satu pun yang meleset. Melihat pertunjukan ini orang-orang bertepuk tangan dan bersorak riang, “Panglima hebat…… Panglima hebat……”
Tiba-tiba datanglah seorang kakek penjual minyak, dan berkata, “Panglima memang hebat, tapi itu hanyalah suatu kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.”
Mendengar kata-katanya, semua orang terkejut. Seketika suasana menjadi hening. Orang-orang yang tadinya berorak riang, langsung terdiam.
Panglima menghampiri orang itu, lalu berkata dengan nada menantang, “Jika benar suatu keahlian dapat diperoleh hanya dengan latihan, tolong tunjukkan keahlianmu!”
Orang tua itupun menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah penjual minyak. Setiap hari ia harus mengiai setiap botol dengan minyak. Pekerjaan itu suda ia tekuni sejak muda. Sambil menjelaskan ia mendemonstasikan keahliannya menuang minyak ke dalam botol yang ditutup dengan koin yangberlubang kecil di tengahnya. Hebatnya tidak ada satu tetespun yang tumpah. Setelah ia selesai mendemonstasikan keahliannya orang-orang kembali bersorak-sorai. Panglima yang sejak tadi memperhatikan menyadari bahwa apa yang dikatakan orang tua itu benar. Praktik yang dlakukan terus menerus akan menghasilkan kecakapan.
Keahlian bisa dicapai siapa saja yang mau melakukan latihan terus-menerus dan tidak cepat menyerah. Bakat hanyalah salah satu modal, tetapi latihanlah yang menyempurnakannya. Ingat ! Tanpa latihan, mereka yang berbakat pun tidak akan bisa berprestasi. Latihan yang dimaksud tidak hanya latihan fisik, tetapi juga latihan cara berpikir. Orang yang selalu berpikir positif dan berkeinginan untuk sukses cenderung memiliki peluang sukses lebih besar daripada mereka yang selalu berpikir negatif dan tidak pernah berpikir tentang kesuksesan.
Sumber : 50 Chinese Wisdom, Leman, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, hal 132-133.
Alkisah ada seorang panglima yang sangat ahli memanah. Suatu hari ia menunjukkan keahliannya di depan rakyat dengan memanah sasaran-sasaran yang telah disiapkan. Ia berhasil memanah semuanya, tidak ada satu pun yang meleset. Melihat pertunjukan ini orang-orang bertepuk tangan dan bersorak riang, “Panglima hebat…… Panglima hebat……”
Tiba-tiba datanglah seorang kakek penjual minyak, dan berkata, “Panglima memang hebat, tapi itu hanyalah suatu kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.”
Mendengar kata-katanya, semua orang terkejut. Seketika suasana menjadi hening. Orang-orang yang tadinya berorak riang, langsung terdiam.
Panglima menghampiri orang itu, lalu berkata dengan nada menantang, “Jika benar suatu keahlian dapat diperoleh hanya dengan latihan, tolong tunjukkan keahlianmu!”
Orang tua itupun menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah penjual minyak. Setiap hari ia harus mengiai setiap botol dengan minyak. Pekerjaan itu suda ia tekuni sejak muda. Sambil menjelaskan ia mendemonstasikan keahliannya menuang minyak ke dalam botol yang ditutup dengan koin yangberlubang kecil di tengahnya. Hebatnya tidak ada satu tetespun yang tumpah. Setelah ia selesai mendemonstasikan keahliannya orang-orang kembali bersorak-sorai. Panglima yang sejak tadi memperhatikan menyadari bahwa apa yang dikatakan orang tua itu benar. Praktik yang dlakukan terus menerus akan menghasilkan kecakapan.
Keahlian bisa dicapai siapa saja yang mau melakukan latihan terus-menerus dan tidak cepat menyerah. Bakat hanyalah salah satu modal, tetapi latihanlah yang menyempurnakannya. Ingat ! Tanpa latihan, mereka yang berbakat pun tidak akan bisa berprestasi. Latihan yang dimaksud tidak hanya latihan fisik, tetapi juga latihan cara berpikir. Orang yang selalu berpikir positif dan berkeinginan untuk sukses cenderung memiliki peluang sukses lebih besar daripada mereka yang selalu berpikir negatif dan tidak pernah berpikir tentang kesuksesan.
Sumber : 50 Chinese Wisdom, Leman, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, hal 132-133.
Label:
keahlian,
kecakapan,
latihan terus menerus
Jumat, 05 Juni 2009
HARI ISTIMEWA IBU
Cinta tidak membuat dunia berputar.
Cintalah yang membuat kehidupan layak dijalani
(Franklin P. Jones)
Di awal dekade 80an, ketika kedua putraku masih balita, aku menitipkan mereka di penitipan anak ketika berangkat kerja. Seperti ribuan ibu bekerja yang lain, aku juga terpengaruh artikel dan tayangan berita tentang dampak negatif tumbuh di penitipan anak. Meski semakin banyak wanita karir menempati posisi tinggi di tempat mereka bekerja, pesan masyarakat nampaknya masih : “Tempat para Ibu adalah di rumah bersama para anak-anak mereka.” Titik ! Tidak perlu dibahas lagi.
Meskipun berusaha sekuat tenaga menyeimbangkan kehidupan keluarga yang lengkap dengan jalur karier yang terus naik, aku dipenuhi rasa bersalah dan keraguan. Apakah aku merusak kehidupan anak-anakku dengan menitipkan mereka di penitipan anak ? Apakah mereka akan membenciku ? Apakah aku seharusnya menjadi Ibu yang tinggal di rumah ?
Pada Hari Ibu 1993, di acara minum teh Hari Ibu untuk murid kelas delapan, jawaban pertanyaanku datang secara tak terduga. Untuk merayakan itu, anak-anak telah menulis puisi tentang ibu mereka masing-masing. Aku duduk di sana, mendengarkan berbagai puisi yang menuturkan pemangangan kue, pembuatan kostum Halloween, penyelenggaraan pesta ulang tahun dan ibu-ibu yang bergantian mengantarkan anak mereka. Ada banyak tawa dan air mata ketika kami semua mendengarkan cara anak remaja kami melihat kami.
Lalu tiba giliran Justin. Ketika ia berjalan ke depan ruangan, aku menahan napas dan perutku mulas. Bagaimana puisinya akan menggambarkanku ?
Ibuku
Bagaimana Ibu akan diingat ?
Seorang wanita yang memiliki bisnisnya sendiri dan menjadi sangat berhasil
Ibu akan diingat oleh cara Ibu memenuhi semua impian Ibu
Cara Ibu menghabiskan waktu mengasuh anak-anak sambil merih posisi puncak….
Dua putra remaja, seribut kera
Ibu adalah Ibu hebat, istri hebat, orang hebat….
Ibu, bagaimana cara Ibu melakukannya ?
Akan ada legenda tentang dirimu, Ibu
Ketika aku memerlukan bantuan, Ibu ada di sana
Bahu Ibu adalah tempat di mana aku bisa merebahkan kepalaku
Apa yang bisa kulakukan tanpa Ibu ?
Bagaimana aku bisa bertahan hidup ?
Yang ingin kukatakan adalah, aku mencintaimu, Ibu.
-----Justin
Dalam beberapa saat yang indah itu, ketika aku mendengar kata-katanya, semua keraguan dan ketakutanku tentang menjadi ibu bekerja berakhir. Saat itu juga disana, aku tahu setelah bertahun-tahun dijaga pengasuh anak, dikirim ke perkemahan, dan dititipkan ke penitipan anak, putraku tidak membenciku. Sebaliknya, ia memberitahuku bahwa selama itu aku selalu ada di sana ketika ia memerlukanku. Ia memberitahuku bahwa ia bangga akan diriku.
Keika selesai membaca puisinya, ia memandang kearahku yang duduk di deret depan hadirin. Ia melemparkan senyum lebar keperakan yang hanya bisa dilakukan anak dengan gigi berkawat. Reaksi pertamaku adalah berlari ke depan dan memeluknya erat-erat --- seperti yang dilakukan orang pada anak kecil --- tapi aku menahan diri. Justin sudah remaja laki-laki dan proses “melepaskan” sudah dimulai. Aku cukup mengacungkanjempol untuk mengungkapkan kebanggaanku sebagai seorang Ibu.
Connie Hill
Sumber : Chicken Soup for the Working Woman’s Soul, PT Gramedia Pustaka Utama, hal 48 – 50.
Cintalah yang membuat kehidupan layak dijalani
(Franklin P. Jones)
Di awal dekade 80an, ketika kedua putraku masih balita, aku menitipkan mereka di penitipan anak ketika berangkat kerja. Seperti ribuan ibu bekerja yang lain, aku juga terpengaruh artikel dan tayangan berita tentang dampak negatif tumbuh di penitipan anak. Meski semakin banyak wanita karir menempati posisi tinggi di tempat mereka bekerja, pesan masyarakat nampaknya masih : “Tempat para Ibu adalah di rumah bersama para anak-anak mereka.” Titik ! Tidak perlu dibahas lagi.
Meskipun berusaha sekuat tenaga menyeimbangkan kehidupan keluarga yang lengkap dengan jalur karier yang terus naik, aku dipenuhi rasa bersalah dan keraguan. Apakah aku merusak kehidupan anak-anakku dengan menitipkan mereka di penitipan anak ? Apakah mereka akan membenciku ? Apakah aku seharusnya menjadi Ibu yang tinggal di rumah ?
Pada Hari Ibu 1993, di acara minum teh Hari Ibu untuk murid kelas delapan, jawaban pertanyaanku datang secara tak terduga. Untuk merayakan itu, anak-anak telah menulis puisi tentang ibu mereka masing-masing. Aku duduk di sana, mendengarkan berbagai puisi yang menuturkan pemangangan kue, pembuatan kostum Halloween, penyelenggaraan pesta ulang tahun dan ibu-ibu yang bergantian mengantarkan anak mereka. Ada banyak tawa dan air mata ketika kami semua mendengarkan cara anak remaja kami melihat kami.
Lalu tiba giliran Justin. Ketika ia berjalan ke depan ruangan, aku menahan napas dan perutku mulas. Bagaimana puisinya akan menggambarkanku ?
Ibuku
Bagaimana Ibu akan diingat ?
Seorang wanita yang memiliki bisnisnya sendiri dan menjadi sangat berhasil
Ibu akan diingat oleh cara Ibu memenuhi semua impian Ibu
Cara Ibu menghabiskan waktu mengasuh anak-anak sambil merih posisi puncak….
Dua putra remaja, seribut kera
Ibu adalah Ibu hebat, istri hebat, orang hebat….
Ibu, bagaimana cara Ibu melakukannya ?
Akan ada legenda tentang dirimu, Ibu
Ketika aku memerlukan bantuan, Ibu ada di sana
Bahu Ibu adalah tempat di mana aku bisa merebahkan kepalaku
Apa yang bisa kulakukan tanpa Ibu ?
Bagaimana aku bisa bertahan hidup ?
Yang ingin kukatakan adalah, aku mencintaimu, Ibu.
-----Justin
Dalam beberapa saat yang indah itu, ketika aku mendengar kata-katanya, semua keraguan dan ketakutanku tentang menjadi ibu bekerja berakhir. Saat itu juga disana, aku tahu setelah bertahun-tahun dijaga pengasuh anak, dikirim ke perkemahan, dan dititipkan ke penitipan anak, putraku tidak membenciku. Sebaliknya, ia memberitahuku bahwa selama itu aku selalu ada di sana ketika ia memerlukanku. Ia memberitahuku bahwa ia bangga akan diriku.
Keika selesai membaca puisinya, ia memandang kearahku yang duduk di deret depan hadirin. Ia melemparkan senyum lebar keperakan yang hanya bisa dilakukan anak dengan gigi berkawat. Reaksi pertamaku adalah berlari ke depan dan memeluknya erat-erat --- seperti yang dilakukan orang pada anak kecil --- tapi aku menahan diri. Justin sudah remaja laki-laki dan proses “melepaskan” sudah dimulai. Aku cukup mengacungkanjempol untuk mengungkapkan kebanggaanku sebagai seorang Ibu.
Connie Hill
Sumber : Chicken Soup for the Working Woman’s Soul, PT Gramedia Pustaka Utama, hal 48 – 50.
Label:
cinta,
hari ibu,
pengasuhan anak,
puisi
Kamis, 28 Mei 2009
MENGASAH BESI BATANGAN MENJADI JARUM
Jika tugas atau pekerjaan dilakukan dengan penuh kesabaran dan keyakinan, pasti akan mendatangkan keberhasilan.
Alkisah ada seorang anak kecil bernama Li Bai yang malas mengikuti pelajaran sekolah. Menurutnya pelajaran sekolah tidak meyenangkan dan sangat membosankan, sehingga ia sering membolos dan bermain-main saja.
Suatu hari ketika bermain di tepi sungai, ia melihat seorang nenek sedang mengasah sesuatu. Karena ingin tahu, ia menghampiri nenek itu sambil terus memperhatikan apa yang dikerjakannya. Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Apa yang sedang Nenek kerjakan ?”
“Nenek sedang mengasah batang besi agar menjadi jarum,” kata orang tua itu.
“Mana mungkin batang besi sebesar ini bisa diasah menjadi jarum, Nek ?” kata anak itu dengan nada tidak percaya.
Kemudian nenek itu menjelaskan ,”Tentu tidak, Nak. Selama kita rajn mengasahnya setiap hari dengan penuh kesabaran, keyakinan dan keteguhan hati, niscaya batang besi pun bisa menjadi jarum.”
Mendengar penjelasan nenek, anak iu terhenyak. Seketika ia sadar bahwa selama ini ia telah bersikap salah karena mlas dan kurang tekun mengikuti pelajaran sekolah. Sejak saat itu ia rajin belajar. Akhirnya ia menjadi seorang penyair ternama dalam sejarah China.
Pekerjaan apapun asal dilakukan dengan tekun dan penuh keyakinan akan mendatangkan keberhasilan. Ada pepatah lain yang mengatakan, “Sehari selembar benang, lama kelamaan menjadi sehelai kain.”
Sumber : 50 Chinese Wisdoms, Leman, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, hal 130 – 131.
Alkisah ada seorang anak kecil bernama Li Bai yang malas mengikuti pelajaran sekolah. Menurutnya pelajaran sekolah tidak meyenangkan dan sangat membosankan, sehingga ia sering membolos dan bermain-main saja.
Suatu hari ketika bermain di tepi sungai, ia melihat seorang nenek sedang mengasah sesuatu. Karena ingin tahu, ia menghampiri nenek itu sambil terus memperhatikan apa yang dikerjakannya. Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Apa yang sedang Nenek kerjakan ?”
“Nenek sedang mengasah batang besi agar menjadi jarum,” kata orang tua itu.
“Mana mungkin batang besi sebesar ini bisa diasah menjadi jarum, Nek ?” kata anak itu dengan nada tidak percaya.
Kemudian nenek itu menjelaskan ,”Tentu tidak, Nak. Selama kita rajn mengasahnya setiap hari dengan penuh kesabaran, keyakinan dan keteguhan hati, niscaya batang besi pun bisa menjadi jarum.”
Mendengar penjelasan nenek, anak iu terhenyak. Seketika ia sadar bahwa selama ini ia telah bersikap salah karena mlas dan kurang tekun mengikuti pelajaran sekolah. Sejak saat itu ia rajin belajar. Akhirnya ia menjadi seorang penyair ternama dalam sejarah China.
Pekerjaan apapun asal dilakukan dengan tekun dan penuh keyakinan akan mendatangkan keberhasilan. Ada pepatah lain yang mengatakan, “Sehari selembar benang, lama kelamaan menjadi sehelai kain.”
Sumber : 50 Chinese Wisdoms, Leman, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, hal 130 – 131.
Langganan:
Postingan (Atom)

